SEBAGAI klub yang ikut mendirikan PSSI, Persebaya Surabaya merupakan klub yang kaya sejarah. Prestasinya pun fenomenal dalam persepakbolaan tanah air. Sayang, tim berjuluk “Bajul ijo” (buaya hijau) itu acapkali tersangkut skandal.
Dari sejumlah kasus yang pernah mencoreng kebesaran namanya, paling bikin geger adalah skandal “Sepakbola gajah” di kompetisi Perserikatan 1988. Aib yang berkalang dendam di satu sisi dan tujuan mulia di sisi lain itu menjadi skandal kecurangan pertama, jauh sebelum timnas Indonesia mengalah di Piala Tiger (kini AFF Cup) 1998 atau kasus PSIS Semarang di Liga Indonesia 2014.
Dalam buku Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler, Slamet Oerip Prihadi dan Abdul Muis mengungkapkan, kisahnya bermula dari laga Divisi Utama Wilayah Timur di mana Persebaya menjamu Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November, 21 Februari 1988. Persebaya yang sangat berpotensi menang. Terlebih mereka tampil di hadapan dukungan penuh arek-arek Suroboyo.
Namun tak dinyana, hasil akhirnya mencengangkan. Skor akhir 12-0 untuk tim Mutiara Hitam (julukan Persipura). Gol demi gol Persipura tercipta dari pembiaran oleh para pemain Persebaya yang mayoritas berisi pemain lapis dua.
Dendam atau Demi Papua?
Banyak versi mengatakan bahwa Persebaya sengaja mengalah untuk menyingkirkan rival bebuyutan, PSIS Semarang. Di musim sebelumnya, PSIS menjadi juara setelah di final mengalahkan Persebaya.
Namun, di balik alasan teknis ternyata ada alasan politis dari sikap mengalahnya Persebaya, yakni menjaga persaudaraan demi keutuhan NKRI. “Alasan utamanya sebenarnya bukan karena PSIS. Tapi kasihan Persipura kalau sampai mereka gagal lolos (babak) 6 Besar, apalagi degradasi seperti Perseman Manokwari. Apa hiburan di Indonesia timur saat itu? Sederhana motifnya. Tapi kalau orang mencernanya pakai emosi, bisa beda,” ujar peneliti sejarah Persebaya Dhion Prasetya kepada Historia.
Persebaya akhirnya tetap menjuarai klasemen Wilayah Timur dan bersama Persipura pula lolos ke Babak 6 Besar. Sementara, juara bertahan PSIS gigit jari lantaran gagal lolos.
Peristiwa yang lantas dikenal sebagai “sepakbola gajah” itu tak membuat Persebaya dihukum PSSI. Kala itu belum ada regulasi yang mengatur skandal semacam itu. Malahan, di akhir musim Persebaya keluar sebagai juara Perserikatan. Satu-satunya hukuman yang diterima Persebaya hanya kebencian dari publik sepakbola Semarang dan Jawa Tengah.
“Pada peristiwa itu, manajer Persebaya Agil H. Ali yang mengajak semua elemen di dalam tim untuk mengalah. Pendapat Pak Agil disetujui para pemain. Maka jadilah sepakbola gajah. Gara-gara itu tim Persebaya dikenal sebagi Bledug Ijo (Anak Gajah Hijau). Itu sebutan olok-olok untuk Persebaya,” lanjut penulis buku Persebaya and Them itu.
Seruan untuk mengalah dari manajemen juga diperkuat pengakuan Ketua Harian Persebaya Brigjen Evert Ernest Mangindaan, yang juga Danrem 084/Baskara Jaya Kodam V Brawijaya. “Pertama, kita melihat bahwa di daerah Indonesia Timur akan tanpa wakil kalau Persipura tak diloloskan. Kedua, PSIS adalah tim tangguh yang tentunya akan lebih merepotkan (di Babak 6 Besar),” ujarnya berdalih, dikutip Merdeka, 29 Maret 1988.
Akibatnya, pertandingan itu dijuluki sebagai “sepakbola gajah”. Olok-olok itu berangkat dari wasit yang memimpin laga berasal dari Lampung. Provinsi paling selatan Pulau Sumatra itu sohor dengan sekolah gajahnya, sampai-sampai MTQ tahun yang sama menggunakan pertandingan sepakbola gajah sebagai atraksi pembukaan.
Bukan Satu-satunya
Tapi itu bukan satu-satunya sepakbola gajah oleh Persebaya. Di kompetisi Perserikatan terakhir, 1993/1994, Persebaya mengulanginya. Kisahnya bermula dari dari laga tandang Persebaya melawan PSIS Semarang, 26 Januari 1994. Manajer Agil merasa Persebaya dikerjai. Dua gol PSIS yang lahir dari tendangan penalti dirasa tak adil. Wasit Helmi Piliang dikecam berat sebelah.
Alhasil, dirancanglah skenario dengan PSIS sebagai sasarannya untuk dijebloskan ke jurang degradasi Wilayah Timur. Persebaya mengalah 1-3 dari Persema Malang pada 30 Januari 1994 dan mengalah 2-3 dari PSIM Yogyakarta pada 5 Februari 1994. “Kemenangan PSIS tidak sportif. Maka layak kalau kami balas dengan mengalah pada Persema dan PSIM,” cetus Agil yang mengklaim itu bukan sepakbola gajah, melainkan sepakbola unjuk rasa, dikutip Pikiran Rakyat, 6 Februari 1994
Nahas, “misi” Agil meleset. PSIS tetap terhindar dari degradasi pada akhir klasemen. Persiba Balikpapan justru ketiban pulung hingga terdegradasi. Agil langsung diganjar sanksi Komisi Disiplin PSSI berupa larangan aktif dalam persepakbolaan selama setahun dan denda Rp500 ribu.

Comments
Post a Comment